Makalah Marketing Mix 4.0
MAKALAH
Marketing Mix 4.0
Diajukan
untuk memenuhi tugas mata kuliah
Manajemen Pemasaran Syariah
diampu
oleh :
Siti Sunaida, M.M
Oleh
Kelompok: 2
1.
Putri Sejati 12405173161
2.
Muhammad Rijal Amin 12405173180
3.
Budi Ahmad Romadhon 12405173151
JURUSAN
MANAJEMEN BISNIS SYARIAH
FAKULTAS
EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN)
TULUNGAGUNG 2019
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah
yang maha pengasih lagi maha penyayang, penullis panjatkan puji dan syukur
kehadiratn-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada
penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan
sebaik-baiknya.
Makalah ini telah
penulis susun dengan sebaik-baiknya dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak
sehingga memperlancar dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis ucapkan
terimakasih kepada Ibu Dosen Siti Sunaida, M.M mata kuliah Manajemen Pemasaran
Syariah, dan penulis ucapkan terimaksih kepada seluruh pihak dalam membantu
menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah yang penulis buat
dapat memberikan manfaat bagi pembacanya. Dan tentunya dapat memenuhi tugas
yang diberikan kepada penulis. Akhir kata penulis memohon maaf apabila terdapat
suatu kesalahan dalam menulis makalah ini serta adanya kritik dan saran dalam
penyususnan makalah yang lebih baik, dan penulis ucapkan terimaksih.
Tulungagung 11,
Maret 2019
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia kini menghadapi era baru yang ditandai dengan kecenderungan
globalisasi dunia sebagai akibat semakin banyaknya negara yang melaksanakan
liberalisasi maupun reformasi ekonomi yang ditunjang pula dengan majunya
teknologi komunikasi dan transportasi. Globalisasi telah mengubah secara drastis pola produksi dari perusahaan
perusahaan multinasional yang semula memproduksi semua kebutuhan menjadi
spesialisasi produksi, yaitu hanya memproduksi komponen atau bagian tertentu
saja, sedangkan bagian / komponen lain di hasilkan oleh perusahaan-perusahaan
lain yang bertindak sebagai pemasok yang pada akhirnya terjadilah
internasionalisasi produksi (Sastrowa rdoyo dalam Fandy Thipno, 2004).
Nampaknya dunia pemasaran pun mengikuti perubahan yang cenderung
lebih banyak memanfaatkan komunikasi dunia internet yang semakin optimal .Para
marketer menjadi terbiasa dengan istilah facebook,blog,web 2.0,Wikipedia,social
networking,mobile marketing dan sebagainya. Dengan blog kita bisa menulis ide
apapun yang berseliweran di kepala kita. Setelah ide
ditulis, kita juga bisa mengajak teman-teman untuk aktif berpartisipasi dengan
berdiskusi atau sekedar ngobrol, memberikan komentar, menuangkan ide, atau
memberi tanggapan. Itu berbeda dengan website yang dulu kita kenal sebatas
tempat mencari informasi. Contoh lain adalah social media seperti YouTube,
Flickr, Facebook, MySpace, Second Life, juga Yahoogroups dan Friendster yang
memungkinkan konsumen bisa berinteraksi dan berkomunitas secara intens.
Perubahan yang demikian cepat ini maeter perlu juga melakukan pendekatan pendekatan baru ,karena jika pengelolaan pemasaran masih mempertahankan cara cara atau model marketing tradisional maka bisnis akan tidak mampu bertahan ditengah perkembangan tehnologi internet (TI) yang semakin canggih. Internet dengan segala perkembangannya, telah mengubah banyak lini kehidupan manusia di dunia ini termasuk pengelolaan pemasaran di kancah persaingan bisnis yang semakin ketat . Pola komunikasi dan relasi manusia kontemporer pun berubah. Orang-orang dari berbagai belahan bumi saling terhubung dalam kekinian—real time. Sebagaimana diungkapkam oleh sosiolog Inggris David Harvey, yang mengatakan bahwa waktu dan jarak sudah
termampatkan (time-space compression).
Rumusan
masalah :
1. Apa pengertian Co-Creation ?
2. Apa pengertian Currency ?
3. Apa pengertian Communal Activation ?
4. Apa pengertian Conversation ?
Tujuan
Makalah :
1. Untuk mengetahui pengertian Co-Creation.
2. Untuk mengetahui pengertian Currency.
3. Untuk mengetahui pengertian Communal
Activation.
4. Untuk mengetahui pengertian
Conversation.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Co-Creation
Co-Creation adalah pengembangan produk bersama
market. Proses
pengembangan produk baru selalu menarik untuk dikaji. Seperti proses melahirkan
seorang bayi pengembangan produk baru merupakan tahapan proses yang penuh
tantangan dan resiko tinggi. Karena begitu beresikonya, proses pengembangan
baru di perusahaan biasanya melibatkan berbagai lintas divisi atau departemen.
Tidak hanya divisi pemasaran saja, tapi juga sampai bagian operasional lainnya.
Di era legacy pengembangan produk baru lebih sering dilakukan atas paradigma
company-centric atau product-centric karena secara tradisonal di kendalikan
oleh perusahaan, sementara konsumen hanya dimintai opini terhadap produk
tersebut. Lain halnya dengan era new wave dimana proses pengembangan produk
tidak lagi dilakukan secara vertikal, namun secara horizontal. Di sini
perusahaan memberikan peluang yang sebesar-besarnya kepada konsumen untuk ikut
aktif dalam pengembangan produk baru. Artinya produk adalah kreasi bersama
antara perusahaan dan konsumennya. Prahalad dan Ramaswamy berpendapat apabila
perusahaan sudah menjalankan proses co-creation seperti ini dengan baik, value
dari produk tersebut akan lebih baik daripada produk yang dihasilkan di era
legacy.
Dalam menerapkan co-creation, ada beberapa hal yang harus dipenuhi.
Pertama identifikasi perilaku konsumen dalam membeli, yang mana secara umum
dapat dibagi menjadi dua, yaitu high involvement dan low involvement. Konsumen
dengan proses pembelian produk high involvement adalah konsumen yang ketika
membeli produk tersebut harus memperhatikan dengan teliti setiap fitur yang ada
dalam produk tersebut dan biasanya proses pembeliannya membutuhkan waktu yang
lama, sementara low involvement adalah produk-produk yang proses pembeliannya
relatif singkat dan lebih bersifat “beli putus”. Kedua, pilihlah konsumen
terbaik yang akan dilibatkan dalam co-creation atau konsumen yang memiliki
kombinasi kriteria konsumen dengan tingkat loyalitas tinggi yang disebut
sebagai promoters dan konsumen dengan sifat kreatif dan inovatif yang disebut
sebagai innovator. Memang tipe konsumen yang cocreator ini tidak banyak.
B.
Currency
Currency adalah mata uang yang di maksudkan di
sini adalah penerapan harga terhadap prodak, penerapan harga ini haruslah
berubah-ubah. Tak jarang para produsen penerapkan diskon di awal louchingnya
prodak bahkan sampai menggratiskannya. Hal ini yang ditujukan uantuk mencari
database seperti kontak, email, dan lain sebagainya.[1]
C. Communal Activation
Communal
activation adalah aktivasi komunal Kembali dalam hal menciptakan loyalitas
konsumen, maka bisa kita mulai dari communal activation yang
berarti bukan sekadar placing atau mendistribusikan
produk secara konvensional. Tapi, sebuah merek harus benar-benar hadir di
sebuah komunitas dalam satu area dan bisa memberikan manfaat bagi komunitas di
sekitarnya. Sebagai contoh adalah yang dilakukan Alfamart dengan
memberikan lantai dua di beberapa tokonya untuk dijadikan tempat beraktivitas
warga sekita. Alfamart yang sebagian ruangnya bisa digunakan oleh warga itu
diberi nama Rumah Komunitas. Kemudian, Indosat juga memiliki program yang
diberi nama Kampung Indosat. Sebuah program yang membuat merek ini hadir tidak
saja dalam poster atau gambar-gambar merek ini di kios-kios penjual
voucher pulsa di wilayah itu. Tapi, juga melakukan kegiatan yang mengaktivasi
masyarakat setempat, seperti lomba kebersihan dan lainnya.
Dalam Communal
Activation ada sebuah persentuhan langsung antara merek dan
konsumen dalam rentang waktu lama. Cara ini sedikit berbeda
dengan brand social responsibility karena
dalam Communal
Activation sisi bisnis tetap berjalan, produk tetap
dijual. Namun, dengan ada di tengah masyarakat dan tidak
memberi jarak dengan warga sekitar, merek itu pun semakin menguat, tidak saja
di pikiran tapi juga di perasaan konsumen. Artinya, dengan Communal
Activation yang tepat, suatu merek bisa mendapatkan custumer
mind share dan customer heart share yang
pada akhirnya memperoleh customer loyalty.[2]
D. Conversation
Conversation
(percakapan) bertujuan untuk menciptakan tempat untuk pelanggan bertanya dengan
produsen maupun pelanggan yang lain ataupun berbagi pengalaman tentang produk
atau bisnis yang sedang dijalankan, karena konsumen saat ini lebih percaya
kepada user experience (pengalaman) dari konsumen yang lebih dahulu menggunakan
produk atau bisnis kita dari pada hanya melalui iklan atau marketing kit yang
di buat prusahaan. Contoh simple Conversation adalah testi moni dan kolom
diskusi di market place apps.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dewasa ini, dunia teknologi bergerak
begitu cepat sehingga setiap perubahan mempercepat perubahan berikutnya.
Menjadi penting di lingkungan seperti itu untuk memiliki garis dasar dan titik
referensi guna membantu pemasar menemukan jalan ke depan. Marketing 4.0
menawarkan pengetahuan baru yang akan menjadi titik awal dan sumber daya yang
berharga untuk semua orang yang mencoba menciptakan serta memahami masa depan
digital dan mobile.” —Howard Tullman, CEO Chicagoland Entrepreneurial
Center/1871 “Internet dan IT mengubah pemasaran secara radikal. Buku ini adalah
pembuka mata bagi pemasaran di era baru.” —Hermann Simon, Pendiri dan Ketua
Simon-Kucher & Partners “Tidak ada orang yang sedemikian paham akan
pemasaran seperti Phil Kotler. Kemampuannya untuk mengidentifikasi serta
menafsirkan tren dan perkembangan pemasaran yang baru sungguh mencengangkan.
Sekali lagi, dengan Marketing 4.0, Kotler dan rekan penulisnya membantu
melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk kesuksesan
pemasaran.
B. Saran
Dengan
adanya pembaruan di dunia digital ini marketing berkembang pesat serta
pemasaran prodak tidak lagi susah dengan mempelajari marketing 4.0 ini kita
tidak lagi ketinggalan jaman dan tidak lagi repot-repot mencari pembeli. Dengan
marketing yang mudah dan pertumbuhan serta teknologi yang sudah memadai kita
bisa langsung menikmati serta menjalankan bisnis dengan mudah.
DAFTAR PUSTAKA
Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, Iwan Setiawan.2017.Marketing 4.0: Bergerak dari
Tradisional ke Digital.PT. Gramedia Pustaka Utama.
http://marketeers.com/ciptakan-customer-loyalty-melalui-communal-activation/
[1] Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, Iwan Setiawan.2017.Marketing 4.0: Bergerak dari
Tradisional ke Digital.PT. Gramedia Pustaka Utama.
[2]
http://marketeers.com/ciptakan-customer-loyalty-melalui-communal-activation/

Komentar
Posting Komentar