Makalah Metedeologi Study Islam


MAKALAH
PENGERTIAN ISLAM SEBAGAI BUDAYA
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
METEDEOLOGI STUDY ISLAM
Dosen Pengampu :
MOH. ROIS ABIN, M.Pd.I




Disusun oleh : MBS 2 D
1.     Budi Ahmad Romadhon        (12405173151)
2.     Ika Diana Akustik                   (12405173184)
3.     Intan Safwan Fatmawati        (12405173164)

JURUSAN MANAJEMEN BISNIS SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
IAIN TULUNGAGUNG
APRIL 2018
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam, hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan serta ampunan. Semoga shalawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, seluruh keluargannya, para sahabat, serta seluruh kaum muslimin.
Selesainya makalah ini tidak lepas dari bantuan beberapa pihak. Karena itu kami ingin mengucapkan terimakasih kepada :
1. Moh. Rois Abin, M.Pd.I selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dalam penulisan makalah ini sehingga dapat kami selesaikan.
2. Teman-teman MBS-2D yang telah mendukung, memberi semangat serta partisipasinya serta pihak yang sudah membantu.
Dengan adanya makalah ini, para pembaca diharapkan dapat memahami mengenai Ulumul Qur’an terutama pada masalah muhkam dan mutasyabih.
Selanjutnya, kami menyadari bahwa apa yang kami tulis dalam makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu, saran dan kritik yang bersifat membangun dari para pembaca sangat kami harapkan.
Sekian, mudah-mudahan Allah SWT meridhai makalah ini, sehingga bermanfaat bagi semuanya.

`          
Tulungagung, 14 November 2017
                           
         Penulis




DAFTAR ISI

Halaman Judul.................................................................................................. ........ i
Kata Pengantar......................................................................................................... ii
Daftar Isi................................................................................................................. iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang............................................................................................ 4
B.      Rumusan Masalah....................................................................................... 4
C.      Tujuan......................................................................................................... 4           
BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Budaya................................................................................      5
B.      Islam Sebagai Budaya...........................................................................      5
C.      Pendekatan Studi Budaya......................................................................      5
BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan............................................................................................       6
B.     Saran....................................................................................................         7
DAFTAR PUSTAKA
      A.  Daftar Pustaka



                                                       BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Saat ini apresiasi umat islam secara umum terdapat budaya islam sangat minimum atau bahkan hampir tidak ada. Seiring dengan perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi menyebabkan banyaknya budaya-budaya luar yang masuk dan mempengaruhi. Budaya baratlah yang merajalela di era globalisasi ini. Meskipun Indonesia terletak di Asia Tenggara agaknya kini lebih akrab dengan dunia Barat ketimbang dengan sesama Muslim Asia Tenggara. Kita melihat ada kecenderungan kultural, ekonomi, politik, dan pendidikan yang mengarah pada ketergantungan dan pengkiblatan diri pada dunia Barat, khususnya Amerika. Ka’bah tetap menjadi kiblat Muslimin sedunia, tapi budaya seremonial dan simbolisme dunia Islam yang telah lama berkembang, kini mampu mereduksi substansi keberagaman hingga menjadikan Amerika sebagai kiblat lain yang menjanjikan. Ketergantungan global dunia ketiga dewasa adalah satu kenyataan yang merisaukan. Arus informasi global yang ada ternyata tidak seimbang dengan dominasi informasi dari budaya Barat. Keadaan ini menimbulkan dominasi kultural atau imperalisme budaya.

     
B.     Rumusan Masalah

1.            Bagaimana pengertian budaya?
2.            Bagaimana Islam sebagai budaya?
3.            Bagaimana pendekatan studi budaya ?


C. Tujuan Masalah
1.      Mengertahui budaya dalam islam
2.      Mengetahui apa itu islam sebagai budaya
3.      Mengetahui apa saja pendekatan studi dalam islam







PEMBAHASAN

A.     PENGERTIAN BUDAYA

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hal. 149, disebutkan bahwa: “ budaya “ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “ kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.
       Menurut S. Takdir Alisyahbana, kebudayaan mempunyai beberapa pengertian yaitu :

1.      Kebudayaan adalah suatu keseluruhan yang kompleks yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda-beda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan segala kecakapan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
2.      Kebudayaan adalah warisan sosial atau tradisi.
3.      Kebudayaan adalah cara, aturan, dan jalan hidup manusia.
4.      Kebudayaan adalah penyesuaian manusia terhadap alam sekitarnya dan cara-cara menyelesaikan persoalan.
5.      Kebudayaan adalah hasil perbuatan atau kecerdasan manusia.
6.      Kebudayaan adalah hasil pergaulan atau perkumpulan manusia.

Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa budaya adalah suatu akal pikiran manusia yang menjadikan suatu hukum adat istiadat tertentu yang harus di patuhi.
Sedangkan kebudayaan adalah segala sesuatu yang menjadikan manusia bisa bergaul dengan masyarakat dengan aturan atau cara yang bisa diterima oleh masyarakat tertentu.
Ternyata kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri atas berbagai unsur besar dan unsur kecil yang merupakan satu keutuhan yang tidak dapat dipisahkan. Unsur-unsur kebudayaan dalam pandangan Malinowski adalah sebagai berikut:

1.  Sistem norma yang memungkinkan terjadinya kerjasama antara para anggota masyarakat dalam upaya menguasai alam sekelilingnya.
2.  Organisasi ekonomi.
3.  Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan (keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan yang paling utama).
4.  Organisasi kekuatan.
     Dengan demikian kebudayaan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Berbagai kekuatan yang dihadapi manusia seperti kekuatan alam dan kekuatan lainnya tidak selalu baik baginya. Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau alat kebendaan yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi masyarakat. Teknologi ini paling sedikit meliputi tujuh unsur, seperti : alat-alat produksi, senjata, wadah, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung dan perumahan, alat transformasi.[1]

B.     ISLAM SEBAGAI BUDAYA

Islam yang dihubungkan dengan kebudayaan berarti cara hidup atau way of life yang juga sangat luas cakupannya. Tentu disini Islam juga dilihat sebagai realitas sosial. Yakni Islam yang telah menyejarah meruang dan mewaktu, Islam yang dipandang sebagai fenomena sosial:bisa dilihat dan dicermati. Dengan demikian yang dimaksudkan kebudayaan Islam adalah cara pandang komunitas Muslim yang telah berjalan, terlembaga dan tersosialisasi dari kurun waktu ke waktu, satu generasi ke generasi yang lain dalam berbagai aspek kehidupan yang cukup luas tapi tetap menampilkan satu bentuk budaya, tradisi, seni, yang khas Islam. Biasanya ruang lingkup studi budaya tidak bisa lepas dari beberapa faktor yang mencangkup manusia, pengaruh lingkungan, perkembangan masyarakat, serta lintas budaya atau cross-culture.
Keunikan budaya dan peradapan Islam terletak pada kokohnya landasan budaya dan peradapan ini berdiri dan bersandar. Paling tidak ada lima poin utama yang membedakan budaya islam dengan budaya lain.

a.       Pertama adalah konsep tauhid atau oneness of god. Di mana saja kapan saja Islam selalu menampilkan ajakan satu Tuhan. Semua yang ada di atas bumi tunduk pada hanya satu Tuhan. Dengan unity of god atau tauhid, posisi individu dan kelompoknya terangkat dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Kemerdekaan, kebebasan yang tauhidi adalah citra budaya masyarakat ini. Penjajahan, imperialisme, penindasan, atau kewenang-wenangan.penguasa atas penderitaan rakyat tidak ada tempat.
b.      Kedua adalah universalitas pesan dan misi peradaban ini. Qur’an menekankan persaudaraan manusia dengan tetap memberi ruang pada perbedaan ras, keluarga, negara, dan sebagainya. Al-Qur’an memberi ajaran yang jelas bahwa persatuan umat manusia adalah satu keharusan dengan tetap bersandar pada kebenaran, kebaikan, serta taqwa pada Allah.
c.       Ketiga adalah prinsiap moral yang selalu ditegakkan dalam budaya ini. Selain ajaran Al-Qur’an, sunnah yang penuh dengan nuansa-nuansa moral, peradaban dan kebudayaan Islam juga tidak pernah sepi dari ajaran ini. Ajaran moral wali songo misalnya nama bisa dibaca dalam buku the Admonition of She Bari, atau pesan-pesan seh Bari yang oleh para sejarawan diduga ditulis oleh sunan bonang. Ajaran moral walisongo juga disajikan melalui media wayang yang  memasyarakat dijawa.
d.      Keempat adalah budaya toleransi yang cukup tinggi. Bisa dikatakan bahwa dimana sebuah negara penduduknya mayoritas muslim, seperti Madinah zaman Nabi misalnya, pastilah non muslim terjamin hidup aman, damai, berdampingan bersam-sama. Sementara jika minoritas muslim tinggal disebuah negara dengan penduduk mayoritas non muslim seperi yang terjadi di India, agaknya keadaan akan lain.
e.       Kelima adalah prinsip keutamaan belajar memperoleh ilmu. Budaya ngaji membaca dan mengkaji kandungan Al-Qur’an, mempelajar hadits adalah budaya Islam yang telah lama eksis sejak kurun pertama sampai kini. Al-Qur’an dan sunah itu sendiri menekankan mulianya pendidikan dan pencari ilmu. Budaya baca, iqra’, dengan demikian telah terbukti membawa peradaban islam pada puncak peradaban dunia [2]dalam waktu yang sangat lama. Budaya yang mengesankan ini sering disebut sebagai budaya pendidikan seumur hidup, atau ” life long educatin” yang terukir dalam sejarah sekaligus dalam sabda Nabi : “ Carilah ilmu dari sejak bayi sampai keliang lahat “.

C.   Pengertian kebudayaan
Kebudayaan atau budaya merupakan bentuk majemuk dari kata budi-daya yang berarti cipta, karsa dan rasa. Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “buddhayah” merupakan bentuk jamak dari kata “budhi” yang berarti budi atau akal (Koentjaraningrat: 1990). Dalam bahasa Belanda kebudayaan diistilahkan dengan kata “cultuur”, sedang dalam bahasa Inggris berasal dari kata “culture” yang berarti segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Mengenai pengertian kebudayaan ini para ahli banyak mendefinisikan bermacam-macam:
1.      Koentjoroningrat merumuskan pengertian kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
2.      Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi mendefinisikan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.
3.      Kroeber mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan realisasi gerak, kebiasaan, tata cara, gagasan dan nilai-nilai yang dipelajari dan diwariskan serta perilaku yang ditimbulkannya.
4.      E. B. Taylor merumuskan kebudayaan sebagai suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
5.      Kluckhohn dan Kelly mendefinisikan kebudayaan sebagai semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irrasional, yang ada pada suatu waktu sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia.
6.      Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa kebudayaan adalah buah budi manusia yang terdiri dari tiga kekuatan jiwa manusia dan hasrat manusia untuk mencapai hidup yang serba senang, hidup lahir dan batin. Denagn kata lain kebudayaan sebagai hasil perjuangan manusia dalam melawan segala kekuatan alam dan pengaruh-pengaruh jaman yang merintangi kemajuannya, kemajuan ke arah hidup selamat dan bahagia. Perlawanan yang terus-menerus ada antara hidup manusia dengan alamnya dan jamannya atau masyarakatnya. Hal inilah yang menyebabkan adanya kesatuan kebudayaan dalam hidupnya suatu masyarakat di suatu negeri. Kesatuan ini kemudian disebut “kebangsaan”.
7.      Sutan Takdir Alisyahbana mengemukakan kebudayaan adalah pola kejiwaan yang di dalamnya terkandung dorongan-dorongan hidup yang dasar, perasaan, dengan pikiran, kemauan dan fantasi yang dinamakan budi. Budi ini sendiri adalah dasar segala kehidupan kebudayaan manusia. Hal inilah yang membedakan perilaku manusia dengan perilaku hewan, sebab yang dinamakan kebudayaan tidak lain daripada penjelmaan budi manusia.
8.      Ralph Linton mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang memiliki dan diwariskan oleh anggota masyarakat tertentu.
Kebudayaan sebagai sistem gagasan menjadi pedoman bagi manusia dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan sosial budaya. Nilai budaya dapat dilihat dan dirasakan dalam sistem kemasyarakatan, kekerabatan yang dituangkan dalam bentuk adat istiadat, yang di dalamnya berisi suatu gagasan kompleks yang dijadikan pedoman sikap dan perilaku manusia baik dalam kehidupan spiritual maupun material. Koentjaraningrat membagi wujud kebudayaan menjadi tiga macam, yaitu:
1.      Sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
2.      Sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3.      Sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Substansi kebudayaan yang utama adalah sebagai berikut:
1.      Sistem pengetahuan, terdiri atas pengetahuan, ilmu dan teknologi.
2.      Nilai, adalah kegiatan manusia yang menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan.
3.      Pandangan hidup (filosofi)
4.      Kepercayaan, yang intinya adalah usaha untuk tetap memelihara hubungan dengan mereka yang telah meninggal dunia, orang yang telah meninggal dianggap pergi ke tempat lain.
5.      Persepsi, adalah tanggapan seseorang terhadap suatu masalah, kejadian atau gejala.
6.      Etos kebudayaan, adalah watak khas tertentu pada suatu kebudayaan yang berbeda dengan orang asing yang berbeda kebudayaan.
Setiap masyarakat pasti mengalami perubahan, dapat berupa perubahan norma-norma sosial, pranata sosial, pola perilaku dan sebagainya. Sedang yang dimaksud dengan perubahan kebudayaan adalah perubahan dalam kebudayaan masyarakat atau perubahan yang terjadi dalam sistem ide yangdimiliki bersama oleh sejumlah masyarakat yang bersangkutan. Bentuk perubahan sosial-budaya dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
1.      Progress, adalah perubahan yang membawa keuntungan terhadap kehidupan masyarakat. Misalnya: alat komunikasi yang sudah semakin canggih.
2.      Regress, adalah proses perubahan yang membawa kemunduran bagi masyarakat yang bersangkutan dalam bidang-bidang tertentu.
Sebagai sebuah sistem yang mencakup segala aspek kehidupan manusia, maka Islam tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat setempat. Bahkan kebudayaan merupakan bagian dari ajaran agama Islam. Ayat-ayat Allah yang mengandung dan mengatur hubungan antara sesama manusia menunjukkan perhatian agama Islam terhadap tata pergaulan hidup manusia. Sebab hubungan manusia yang satu dengan yang lain akan melahirkan kebudayaan. Agama Islam tidak melarang kebudayaan masyarakat setempat berkembang dan dijalankan sebagai adat-istiadat masyarakat asalkan kebudayaan tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama dan bisa berjalan selaras, beriringan dengan baik. Allah berfirman:
“Dan Barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, Padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, Maka Sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Q.S Al Mu’minun: 117)[3].


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dalam uraian makalah tentang islam sebagai produk budaya, dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang di dapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sebagai kebudayaan islam manusia berlandasan pada nilai-nilai tauhid. Budaya akan berguna untuk melindungi ataupun membantu masyarakat untuk mengolah alam yang bisa bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri. Ajaran Islam yang ditanamkan melalui perangkat budaya ini, mau tak mau, menyisakan warisan agama lama dan kepercayaan yang ada, yang tumbuh subur di masyarakat pada waktu itu. Bisa dikatakan bahwa proses pengislaman budaya Nusantara oleh para ulama terdahulu dibarengi dengan proses penusantaraan nilai-nilai Islam, sehingga keduanya melebur menjadi entitas baru yang kemudian kita kenal sebagai Islam Nusantara. Perangkat budaya ini merupakan sumber etik moral dan pijakan kultural bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dan sebagai bentuk investasi masa depan bagi umat Islam Indonesia dalam menghadapi dinamika keberagamaan yang penuh warna


SARAN

Kita sebagai generasi penerus bangsa harus bisa mengikuti arus perkembangan dan kemajuan teknologi di masa modern tetapi harus tetep berpegang tegus dengan ajaran agama islam dan selalu melestarikan budaya budaya islam di Indonesia agar tidak terpengaruh oleh budaya budaya yang negatif.




Atang, Abd. Hakim, Metodologi Studi Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999.
Thoha,chabib,dkk,Metodelogi Pengajaran Agama, Semarang: Pustaka Belajar,1999.
Hakim, Atang Abd, Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999, cet 1.
Abdurahman Mas’ud, Metedologi Pengajaran Agama, Semarang: Pustaka Pelajar, 1999.




[1]] KBBI hlm. 149
[2] Atang Abd.Hakim, Jaih Mubarok,Metodologi Studi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,   1999) hlm. 28
[3] Ach. Nadlif,dkk, tradisional islam,surabaya:Al miftah, t.t.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Modal Ventura

Makalah Bisnis Syariah Sebagai Pekerjaan Mulia

MAKALAH ETIKA ISLAM DALAM BIDANG KONSUMSI